mengapa journaling bisa membersihkan sampah mental
Pernahkah kita merasa kelelahan yang luar biasa pada penghujung hari, padahal seharian kita hanya duduk di depan meja? Tubuh kita tidak ke mana-mana, tapi otak kita rasanya seperti habis berlari maraton. Bayangkan otak kita layaknya browser di komputer. Ada puluhan tab yang terbuka secara bersamaan. Satu tab memutar musik yang sama berulang-ulang, tab lain menampilkan kecemasan soal hari esok, dan ada tab tersembunyi yang terus mengingatkan kita pada kesalahan konyol lima tahun lalu. Kita tidak tahu tab mana yang paling berisik, tapi efeknya nyata: sistem kita melambat, baterai kita terkuras, dan kita kesulitan untuk sekadar fokus bernapas. Teman-teman, itulah wujud nyata dari tumpukan sampah mental. Dan percayalah, kita tidak sendirian dalam menghadapi kebisingan ini.
Ribuan tahun lalu, jauh sebelum istilah kesehatan mental populer di media sosial, seorang kaisar Romawi bernama Marcus Aurelius sering duduk sendirian di tendanya pada malam hari. Di tengah dinginnya medan perang, dia mengambil perkamen dan mulai menulis. Dia tidak sedang menulis perintah militer, bukan juga puisi untuk dipamerkan. Dia hanya menulis untuk dirinya sendiri. Membedah isi kepalanya, mengurai ketakutannya, dan merasionalisasi kecemasannya. Praktik kuno ini sekarang kita kenal dengan istilah journaling. Mungkin kita sering melihat journaling diasosiasikan dengan buku catatan estetik dan pena mahal. Padahal, jika kita menelusuri sejarah dan sains di baliknya, ini bukanlah sekadar tren gaya hidup. Ini adalah mekanisme pertahanan diri. Pertanyaannya, apa yang sebenarnya terjadi saat ujung pena kita menyentuh kertas?
Mari kita bedah situasi ini bersama-sama dari sudut pandang psikologi. Ada sebuah fenomena menarik yang disebut Zeigarnik Effect. Fenomena ini menyatakan bahwa otak manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk mengingat hal-hal yang belum selesai, jauh lebih kuat daripada hal-hal yang sudah tuntas. Otak kita benci ketidakpastian. Ia akan terus menahan "tugas-tugas" yang belum selesai itu di dalam working memory atau memori jangka pendek kita. Inilah alasan mengapa kita tiba-tiba teringat email yang belum dibalas saat sedang mandi, atau memikirkan tagihan saat mencoba tidur. Semakin banyak hal yang menggantung, semakin penuh working memory kita. Akibatnya, kita menjadi overthinking dan mudah terpicu emosi. Logikanya, kita harus menyelesaikan semua itu agar otak bisa tenang. Tapi, bagaimana jika kecemasan itu belum ada solusinya sekarang? Bagaimana cara kita "menipu" otak agar berhenti menyalakan alarm tanda bahaya?
Di sinilah hard science memberikan jawaban yang menakjubkan. Saat kita melakukan journaling, memindahkan apa yang ada di kepala menjadi rentetan kata di atas kertas, kita sedang memicu proses neurologis yang disebut affect labeling. Ketika kita memberi nama pada emosi kita—misalnya menulis "saya merasa sangat cemas karena tenggat waktu besok"—kita memaksa otak untuk berpindah gigi. Aktivitas yang awalnya berpusat di amygdala (pusat emosi, ketakutan, dan insting primitif kita) dipaksa pindah ke prefrontal cortex (pusat logika, analisis, dan pengambilan keputusan). Menulis adalah proses offloading data. Kita memindahkan beban dari RAM otak yang kapasitasnya terbatas, ke sebuah hard drive eksternal bernama kertas. Monster tak berbentuk yang meneror pikiran kita, tiba-tiba diubah menjadi sekadar huruf-huruf mati yang tunduk pada aturan tata bahasa. Secara biologis, detak jantung kita akan melambat dan napas kita menjadi lebih panjang, karena otak akhirnya meregistrasi bahwa "ancaman" tersebut sudah dipetakan.
Kita hidup di era yang tidak pernah tidur, sebuah zaman yang terus-menerus memborbardir pikiran kita dengan informasi setiap detiknya. Jadi, sangat wajar, sungguh sangat manusiawi, jika mental kita kadang dipenuhi sampah sisa pemrosesan informasi. Tapi kabar baiknya, membersihkan sampah mental ini tidak membutuhkan biaya mahal, obat khusus, atau ritual yang rumit. Teman-teman hanya butuh secarik kertas bekas dan sebuah pena. Ingat, kita bukan sedang menulis novel untuk dinilai. Jangan pedulikan ejaan, abaikan tata bahasa, dan biarkan tulisan itu berantakan atau bahkan tidak terbaca sama sekali. Tumpahkan saja semuanya. Beri izin pada diri kita untuk membuang sampah-sampah itu ke tempat yang seharusnya. Karena pada akhirnya, kadang cara paling ilmiah untuk menjernihkan pikiran justru dimulai dengan membiarkan tangan kita yang berbicara. Selamat mencoba, mari kita bernapas sedikit lebih lega hari ini.